Rabu, 05 Maret 2014

Memperindah Hati

Memperindah Hati

Oleh KH. Abdullah Gymnastiar

                        Setiap manusia tentulah sangat menyukai dan merindukan
                        keindahan. Banyak orang yang menganggap keindahan adalah
                        pangkal dari segala puji dan harga. Tidak usah heran
                        kalau banyak orang memburunya. Ada orang yang berani
                        pergi beratus bahkan beribu kilometer semata-mata untuk
                        mencari suasana pemandangan yang indah. Banyak orang
                        rela membuang waktu untuk berlatih mengolah jasmani
                        setiap saat karena sangat ingin memiliki tubuh yang
                        indah.
                        Tak sedikit juga orang berani membelanjakan uangnya
                        berjuta bahkan bermilyar karena sangat rindu memiliki
                        rumah atau kendaraan mewah.
                        Akan tetapi, apa yang terjadi? Tak jarang kita
                        menyaksikan betapa terhadap orang-orang yang memiliki
                        pakaian dan penampilan yang mahal dan indah, yang datang
                        ternyata bukan penghargaan, melainkan justru
                        penghinaaan. Ada juga orang yang memiliki rumah megah
                        dan mewah, tetapi bukannya mendapatkan pujian, melainkan
                        malah cibiran dan cacian. Mengapa keindahan yang tadinya
                        disangka akan mengangkat derajat kemuliaan malah
                        sebaliknya, padahal kunci keindahan yang sesungguhnya
                        adalah jika sesorang merawat serta memperhatikan
                        kecantikan dan keindahan hati. Inilah pangkal kemuliaan
                        sebenarnya.
                        Rasulullah SAW pakaiannya tidak bertabur bintang
                        penghargaan, tanda jasa, dan pangkat. Akan tetapi, demi
                        Allah sampai saat ini tidak pernah berkurang
                        kemuliaannya. Rasulullah SAW tidak menggunakan
                        singgasana dari emas yang gemerlap, ataupun memiliki
                        rumah yang megah dan indah. Akan tetapi, sampai detik
                        ini sama sekali tidak pernah luntur pujian dan
                        penghargaan terhadapnya, bahkan hingga kelak datang
                        akhir zaman. Apakah rahasianya? Ternyata semua itu
                        dikarenakan Rasulullah SAW adalah orang yang sangat
                        menjaga mutu keindahan dan kesucian hatinya.
                        Rasulullah SAW bersabda, "Ingatlah, dalam tubuh manusia
                        itu ada segumpal daging. Kalau segumpal daging itu baik,
                        maka akan baiklah seluruh tubuhnya. Tetapi, bila rusak,
                        niscaya akan rusak pula seluruh tubuhnya. Segumpal
                        daging itu bernama qolbu!" (HR. Bukhari dan Muslim).
                        Boleh saja kita memakai segala apapun yang indah-indah.
                        Namun, kalau tidak memiliki hati yang indah,demi Allah
                        tidak akan pernah ada keindahan yang sebenarnya.
                        Karenanya jangan terpedaya oleh keindahan dunia.
                        Lihatlah, begitu banyak wanita malang yang tidak
                        mengenal moral dan harga diri. Mereka pun tidak kalah
                        indah dan molek wajah, tubuh, ataupun penampilannya.
                        Kendatipun demikian, mereka tetap diberi oleh Allah
                        dunia yang indah dan melimpah.
                        Ternyata dunia dan kemewahan bukanlah tanda kemuliaan
                        yang sesungguhnya karena orang-orang yang rusak dan
                        durjana sekalipun diberi aneka kemewahan yang melimpah
                        ruah oleh Allah. Kunci bagi orang-orang yang ingin
                        sukses, yang ingin benar-benar merasakan lezat dan
                        mulianya hidup, adalah orang-orang yang sangat
                        memelihara serta merawat keindahan dan kesucian qalbunya.
                        Imam Al Ghazali menggolongkan hati ke dalam tiga
                        golongan, yakni yang sehat (qolbun shahih), hati yang
                        sakit (qolbun maridh), dan hati yang mati (qolbun
                        mayyit).
                        Seseorang yang memiliki hati sehat tak ubahnya memiliki
                        tubuh yang sehat. Ia akan berfungsi optimal. Ia akan
                        mampu memilih dan memilah setiap rencana atas suatu
                        tindakan, sehingga setiap yang akan diperbuatnya
                        benar-benar sudah melewati perhitungan yang jitu
                        berdasarkan hati nurani yang bersih.
                        Orang yang paling beruntung memiliki hati yang sehat
                        adalah orang yang dapat mengenal Allah Azza wa Jalla
                        dengan baik. Semakin cemerlang hatinya, maka akan
                        semakin mengenal dia. Penguasa jagat raya alam semesta
                        ini. Ia akan memiliki mutu pribadi yang begitu hebat dan
                        mempesona. Tidak akan pernah menjadi ujub dan takabur
                        ketika mendapatkan sesuatu, namun sebaliknya akan
                        menjadi orang yang tersungkur bersujud. Semakin tinggi
                        pangkatnya, akan membuatnya semakin rendah hati. Kian
                        melimpah hartanya, ia akan kian dermawan. Semua itu
                        dikarenakan ia menyadari, bahwa semua yang ada adalah
                        titipan Allah semata. Tidak dinafkahkan di jalan Allah,
                        pasti Allah akan mengambilnya jika Dia kehendaki.
                        Semakin bersih hati, hidupnya akan selalu diselimuti
                        rasa syukur. Dikaruniai apa saja, kendati sedikit, ia
                        tidak akan habis-habisnya meyakini bahwa semua ini
                        adalah titipan Allah semata, sehingga amat jauh dari
                        sikap ujub dan takabur. Persis seperti ucapan yang
                        terlontar dari lisan Nabi Sulaiman AS, tatkala dirinya
                        dianugerahi Allah berbagai kelebihan, "Haadzaa min
                        fadhli Rabbii, liyabluwani a-asykuru am afkuru." (QS. An
                        Naml [27] : 40). Ini termasuk karunia Tuhanku, untuk
                        mengujiku apakah aku mampu bersyukur atau malah kufur
                        atas nikmat-Nya.
                        Suatu saat bagi Allah akan menimpakkan ujian dan bala.
                        Bagi orang yang hatinya bersih, semua itu tidak kalah
                        terasa nikmatnya. Ujian dan persoalan yang menimpa
                        justru benar-benar akan membuatnya kian merasakan
                        indahnya hidup ini. Karena, orang yang mengenal Allah
                        dengan baik berkat hati yang bersih, akan merasa yakin
                        bahwa ujian adalah salah satu perangkat kasih sayang
                        Allah, yang membuat seseorang semakin bermutu.
                        Dengan persoalan akan menjadikannya semakin bertambah
                        ilmu. Dengan persoalan akan bertambahlah ganjaran.
                        Dengan persoalan pula derajat kemuliaan seorang hamba
                        Allah akan bertambah baik, sehingga ia tidak pernah
                        resah, kecewa, dan berkeluh kesah karena menyadari bahwa
                        persoalan merupakan bagian yang harus dinikmati dalam
                        hidup ini.
                        Oleh karenanya, tidak usah heran orang yang hatinya
                        bersih, ditimpa apapun dalam hidup ini, sungguh bagaikan
                        air di relung lautan yang dalam. Tidak pernah akan
                        berguncang walaupun ombak badai saling menerjang. Ibarat
                        karang yang tegak tegar, dihantam ombak sedahsyat apapun
                        tidak akan pernah roboh. Tidak ada putus asa, tidak ada
                        keluh kesah berkepanjangan. Yang ada hanya kejernihan
                        dan keindahan hati. Ia amat yakin dengan janji Allah,
                        "Laa yukalifullahu nafasan illa wus’ahaa." (QS. Al
                        Baqarah [2] : 286). Allah tidak akan membebani
                        seseorang, kecuali sesuai dengan kesanggupannya. Pasti
                        semua yang menimpa sudah diukur oleh-Nya. Mahasuci Allah
                        dari perbuatan zhalim kepada hamba-hamba-Nya.
                        Ia sangat yakin bahwa hujan pasti berhenti. Badai pasti
                        berlalu. Malam pasti berganti menjadi siang. Tidak ada
                        satu pun ujian yang menimpa, kecuali pasti akan ada
                        titik akhirnya. Ia tidak berubah bagai intan yang akan
                        tetap kemilau walaupun dihantam dengan apapun jua.
                        Memang luar biasa orang yang memiliki hati yang bersih.
                        Nikmat datang tak pernah membuatnya lalai bersyukur,
                        sementara sekalipun musibah yang menerjang, sama sekali
                        tidak akan pernah mengurangi keyakinan akan curahan
                        kasih sayang-Nya. Semua itu dikarenakan ia bisa
                        menyelami sesuatu secara lebih dalam atas musibah yang
                        menimpa dirinya, sehingga tergapailah sang mutiara
                        hikmah. Subhanallaah, sungguh teramat beruntung siapapun
                        yang senantiasa berikhtiar dengan sekuat-kuatnya untuk
                        memperindah qolbunya.***

0 komentar:

Posting Komentar