Aku cinta Indonesiaku

life is never flat.

Aku cinta Indonesiaku

Menjadikan hidup lebih bermakna.

Sesuatu yang diawali pasti akan berakhir

Pekerjaan yang diawali dengan Ikhlas akan menjadi baik .

Para Pejuang

Dalam sebuah team. Sesuatu yang kurang akan menjadi lengkap, jika saling melengkapi.

Teman dalam susah dan senang

Sahabat adalah warna bagi sebuah kanfas kehidupan.

Aku cinta Indonesiaku

Adakah kesia - siaan dalam ciptaan Tuhan.

Rabu, 05 Maret 2014

Memperindah Hati

Memperindah Hati

Oleh KH. Abdullah Gymnastiar

                        Setiap manusia tentulah sangat menyukai dan merindukan
                        keindahan. Banyak orang yang menganggap keindahan adalah
                        pangkal dari segala puji dan harga. Tidak usah heran
                        kalau banyak orang memburunya. Ada orang yang berani
                        pergi beratus bahkan beribu kilometer semata-mata untuk
                        mencari suasana pemandangan yang indah. Banyak orang
                        rela membuang waktu untuk berlatih mengolah jasmani
                        setiap saat karena sangat ingin memiliki tubuh yang
                        indah.
                        Tak sedikit juga orang berani membelanjakan uangnya
                        berjuta bahkan bermilyar karena sangat rindu memiliki
                        rumah atau kendaraan mewah.
                        Akan tetapi, apa yang terjadi? Tak jarang kita
                        menyaksikan betapa terhadap orang-orang yang memiliki
                        pakaian dan penampilan yang mahal dan indah, yang datang
                        ternyata bukan penghargaan, melainkan justru
                        penghinaaan. Ada juga orang yang memiliki rumah megah
                        dan mewah, tetapi bukannya mendapatkan pujian, melainkan
                        malah cibiran dan cacian. Mengapa keindahan yang tadinya
                        disangka akan mengangkat derajat kemuliaan malah
                        sebaliknya, padahal kunci keindahan yang sesungguhnya
                        adalah jika sesorang merawat serta memperhatikan
                        kecantikan dan keindahan hati. Inilah pangkal kemuliaan
                        sebenarnya.
                        Rasulullah SAW pakaiannya tidak bertabur bintang
                        penghargaan, tanda jasa, dan pangkat. Akan tetapi, demi
                        Allah sampai saat ini tidak pernah berkurang
                        kemuliaannya. Rasulullah SAW tidak menggunakan
                        singgasana dari emas yang gemerlap, ataupun memiliki
                        rumah yang megah dan indah. Akan tetapi, sampai detik
                        ini sama sekali tidak pernah luntur pujian dan
                        penghargaan terhadapnya, bahkan hingga kelak datang
                        akhir zaman. Apakah rahasianya? Ternyata semua itu
                        dikarenakan Rasulullah SAW adalah orang yang sangat
                        menjaga mutu keindahan dan kesucian hatinya.
                        Rasulullah SAW bersabda, "Ingatlah, dalam tubuh manusia
                        itu ada segumpal daging. Kalau segumpal daging itu baik,
                        maka akan baiklah seluruh tubuhnya. Tetapi, bila rusak,
                        niscaya akan rusak pula seluruh tubuhnya. Segumpal
                        daging itu bernama qolbu!" (HR. Bukhari dan Muslim).
                        Boleh saja kita memakai segala apapun yang indah-indah.
                        Namun, kalau tidak memiliki hati yang indah,demi Allah
                        tidak akan pernah ada keindahan yang sebenarnya.
                        Karenanya jangan terpedaya oleh keindahan dunia.
                        Lihatlah, begitu banyak wanita malang yang tidak
                        mengenal moral dan harga diri. Mereka pun tidak kalah
                        indah dan molek wajah, tubuh, ataupun penampilannya.
                        Kendatipun demikian, mereka tetap diberi oleh Allah
                        dunia yang indah dan melimpah.
                        Ternyata dunia dan kemewahan bukanlah tanda kemuliaan
                        yang sesungguhnya karena orang-orang yang rusak dan
                        durjana sekalipun diberi aneka kemewahan yang melimpah
                        ruah oleh Allah. Kunci bagi orang-orang yang ingin
                        sukses, yang ingin benar-benar merasakan lezat dan
                        mulianya hidup, adalah orang-orang yang sangat
                        memelihara serta merawat keindahan dan kesucian qalbunya.
                        Imam Al Ghazali menggolongkan hati ke dalam tiga
                        golongan, yakni yang sehat (qolbun shahih), hati yang
                        sakit (qolbun maridh), dan hati yang mati (qolbun
                        mayyit).
                        Seseorang yang memiliki hati sehat tak ubahnya memiliki
                        tubuh yang sehat. Ia akan berfungsi optimal. Ia akan
                        mampu memilih dan memilah setiap rencana atas suatu
                        tindakan, sehingga setiap yang akan diperbuatnya
                        benar-benar sudah melewati perhitungan yang jitu
                        berdasarkan hati nurani yang bersih.
                        Orang yang paling beruntung memiliki hati yang sehat
                        adalah orang yang dapat mengenal Allah Azza wa Jalla
                        dengan baik. Semakin cemerlang hatinya, maka akan
                        semakin mengenal dia. Penguasa jagat raya alam semesta
                        ini. Ia akan memiliki mutu pribadi yang begitu hebat dan
                        mempesona. Tidak akan pernah menjadi ujub dan takabur
                        ketika mendapatkan sesuatu, namun sebaliknya akan
                        menjadi orang yang tersungkur bersujud. Semakin tinggi
                        pangkatnya, akan membuatnya semakin rendah hati. Kian
                        melimpah hartanya, ia akan kian dermawan. Semua itu
                        dikarenakan ia menyadari, bahwa semua yang ada adalah
                        titipan Allah semata. Tidak dinafkahkan di jalan Allah,
                        pasti Allah akan mengambilnya jika Dia kehendaki.
                        Semakin bersih hati, hidupnya akan selalu diselimuti
                        rasa syukur. Dikaruniai apa saja, kendati sedikit, ia
                        tidak akan habis-habisnya meyakini bahwa semua ini
                        adalah titipan Allah semata, sehingga amat jauh dari
                        sikap ujub dan takabur. Persis seperti ucapan yang
                        terlontar dari lisan Nabi Sulaiman AS, tatkala dirinya
                        dianugerahi Allah berbagai kelebihan, "Haadzaa min
                        fadhli Rabbii, liyabluwani a-asykuru am afkuru." (QS. An
                        Naml [27] : 40). Ini termasuk karunia Tuhanku, untuk
                        mengujiku apakah aku mampu bersyukur atau malah kufur
                        atas nikmat-Nya.
                        Suatu saat bagi Allah akan menimpakkan ujian dan bala.
                        Bagi orang yang hatinya bersih, semua itu tidak kalah
                        terasa nikmatnya. Ujian dan persoalan yang menimpa
                        justru benar-benar akan membuatnya kian merasakan
                        indahnya hidup ini. Karena, orang yang mengenal Allah
                        dengan baik berkat hati yang bersih, akan merasa yakin
                        bahwa ujian adalah salah satu perangkat kasih sayang
                        Allah, yang membuat seseorang semakin bermutu.
                        Dengan persoalan akan menjadikannya semakin bertambah
                        ilmu. Dengan persoalan akan bertambahlah ganjaran.
                        Dengan persoalan pula derajat kemuliaan seorang hamba
                        Allah akan bertambah baik, sehingga ia tidak pernah
                        resah, kecewa, dan berkeluh kesah karena menyadari bahwa
                        persoalan merupakan bagian yang harus dinikmati dalam
                        hidup ini.
                        Oleh karenanya, tidak usah heran orang yang hatinya
                        bersih, ditimpa apapun dalam hidup ini, sungguh bagaikan
                        air di relung lautan yang dalam. Tidak pernah akan
                        berguncang walaupun ombak badai saling menerjang. Ibarat
                        karang yang tegak tegar, dihantam ombak sedahsyat apapun
                        tidak akan pernah roboh. Tidak ada putus asa, tidak ada
                        keluh kesah berkepanjangan. Yang ada hanya kejernihan
                        dan keindahan hati. Ia amat yakin dengan janji Allah,
                        "Laa yukalifullahu nafasan illa wus’ahaa." (QS. Al
                        Baqarah [2] : 286). Allah tidak akan membebani
                        seseorang, kecuali sesuai dengan kesanggupannya. Pasti
                        semua yang menimpa sudah diukur oleh-Nya. Mahasuci Allah
                        dari perbuatan zhalim kepada hamba-hamba-Nya.
                        Ia sangat yakin bahwa hujan pasti berhenti. Badai pasti
                        berlalu. Malam pasti berganti menjadi siang. Tidak ada
                        satu pun ujian yang menimpa, kecuali pasti akan ada
                        titik akhirnya. Ia tidak berubah bagai intan yang akan
                        tetap kemilau walaupun dihantam dengan apapun jua.
                        Memang luar biasa orang yang memiliki hati yang bersih.
                        Nikmat datang tak pernah membuatnya lalai bersyukur,
                        sementara sekalipun musibah yang menerjang, sama sekali
                        tidak akan pernah mengurangi keyakinan akan curahan
                        kasih sayang-Nya. Semua itu dikarenakan ia bisa
                        menyelami sesuatu secara lebih dalam atas musibah yang
                        menimpa dirinya, sehingga tergapailah sang mutiara
                        hikmah. Subhanallaah, sungguh teramat beruntung siapapun
                        yang senantiasa berikhtiar dengan sekuat-kuatnya untuk
                        memperindah qolbunya.***

Menyikapi Episode Kehidupan Dengan Sikap Terbaik

Menyikapi Episode Kehidupan Dengan Sikap Terbaik
Oleh : Aa Gym

A'udzubillaahi minasyaithoonirrojiim Wa la nabluwannakum bi syai-im minal khaufi wal juu’i wa naqshim minal amwaali wal anfusi wats tsamaraati wa basysyirish shaabiriin “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu,dengan sedikit ketakutan,kelaparan,kekurangan harta,jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”
Al ladziina idzaa ashaabat-hum mushiibatun qaaluu innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun “Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,(”Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun/ Sesungguhnya kami milik Alloh dan sesungguhnya kepada-Nya kami kembali “)
Ulaa-ika ‘alaihim shalawaatum mir rabbihim wa rahmatuw wa ulaa-ika humul muhtaduun “Mereka itulah yang mendapat Keberkatan yang sempurna dan Rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (Q.S Al Baqarah/2 : 155-157)
-----
Alhamdulillaahirabbil 'aalamiin, Allahuma shalli 'ala Muhammad wa'ala aalihi washahbihii ajmai'iin. Saudaraku yang baik, kita tidak usah panik dalam menghadapi hidup ini. Yang berbahaya bagi kita bukanlah penyakit, bukanlah ancaman. Tapi kita yang belum bisa menyikapi semua ini dengan sikap terbaik.
Kita tidak bisa memaksa segalanya sesuai dengan keinginan. justru kita harus memaksa diri untuk berusaha menyikapi apapun dengan sikap terbaik kita. Itu kuncinya. Maka jangan pernah kita hancur oleh apapun yang ada diluar kita.
Tidak pernah rugi jikalau kita menghadapi hidup ini dengan kekuatan iman. Saat diberi nikmat kita bersyukur. Karena syukur adalah kebaikan bagi kita. Begitupun saat diberi ujian kita menyikapinya dengan kesabaran. Karena sabar juga adalah kebaikan. Maka, diberikan krisis ekonomi seperti sekarang ini semoga membuat kita tertantang untuk mengelola diri untuk lebih kreatif.

Dengan adanya isu penyakit “SARS” yang ramai dibicarakan akhir-akhir ini. Mudah-mudahan membuat kita semakin gigih memperbaiki diri. Semakin hidup bersih dan semakin kuat ibadah kita. Semakin bersungguh-sungguh mendekat kepada Alloh. Kita tidak akan pernah rugi. Karena kerugian dalam hidup hanyalah milik orang-orang yang tidak punya iman. Itulah musibah terbesar. Bencana terbesar adalah ketika kita tidak mengenal siapa Alloh?, tidak mengenal akan dibawa kemana arah hidup ini ?, tidak mengenal siapa diri ?, Itulah bencana yang sesungguhnya. Kalau ada pertanyaan bagaimana agar keimanan kita meningkat ? jawabannya ialah ilmu. Karena pupuknya iman adalah ilmu, ilmu yang selanjutnya bisa kita amalkan. Wallahu a’lam.
Sumber: Manajemen Qolbu Online [Kajian Bening Hati - Manajemen Diri], 08-04-03 

Wanita Shalihah


Wanita yang didunianya solehah akan menjadi cahaya bagi keluarganya, melahirkan keturunan yang baik dan jika wafat di akhirat akan menjadi bidadari. Hikam : Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara faraz-nya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.
Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara faraz-nya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak daripadanya. Rosulullah SAW bersabda: "Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang solehah." (HR. Muslim) Wanita solehah merupakan penentram batin, menjadi penguat semangat berjuang suami, semangat ibadah suami. Suami yakin tidak akan dikhianati, kalau ditatap benar-benar menyejukkan qolbu, kalau berbicara tutur katanya menentramkan batin, tidak ada keraguan terhadap sikapnya. Pada prinsipnya wanita solehah adalah wanita yang taat pada Allah, taat pada Rasul. Kecantikannya tidak menjadikan fitnah pada orang lain. Kalau wanita muda dari awal menjaga dirinya, selain dirinya akan terjaga, juga kehormatan dan kemuliaan akan terjaga pula, dan dirinya akan lebih dicintai Allah karena orang yang muda yang taat lebih dicintai Allah daripada orang tua yang taat. Dan, Insyaallah nanti oleh Allah akan diberi pendamping yang baik.  Agar wanita solehah selalu konsisten yaitu dengan istiqomah menimba ilmu dari alam dan lingkungan di sekitarnya dan mengamalkan ilmu yang ada. Wanita yang solehah juga dapat berbakti terhadap suami dan bangsanya dan wanita yang solehah selalu belajar. Tiada hari tanpa belajar.  


KH. Abdullah Gymnastiar, Pimpinan Pondok Pesantren Daarut Tauhiid Bandung, bisa dihubungi melalui aagym@indo.net.id                 

Bagaimana Seharusnya Kita Beragama

Bagaimana Seharusnya Kita Beragama?
Pertanyaan di atas layak diketengahkan dalam rangka introspeksi diri atas keagamaan kita, sehingga kita benar-benar beragama sebagaimana mestinya. Karena betapa banyak orang beragama, namun keberagamaan mereka sekedar warisan dari orang tua atau lingkungan sekitar mereka. Bahkan ada sebagian orang beranggapan, bahwa agama hanya sebagai pelengkap kehidupan yang sifatnya eksidental.
Mereka tidak ambil peduli yang lazim terhadap agama. Karenanya mereka beragama asal-asalan, sekedar tidak dikatakan tidak beragama. Gejala perpindahan dari satu agama kepada agama yang lain bukanlah semata karena faktor ekonomi. Bahkan, anggapan bahwa semua agama itu sama merupakan akibat dari ketidak pedulian yang lazim terhadap agama. Gejala pluralisme semacam ini menjadi trend abad kedua puluh.
Dalam persepsi mereka, membicarakan agama adalah suatu hal yang sangat sensitif dan akan merenggangkan hubungan antara manusia. Agama merupakan sesuatu yang sangat personal dan tidak perlu diungkap dalam forum-forum umum dan terbuka. Jika harus berbicara agama pun, maka ruang lingkupnya harus dibatasi pada sisi peribadatan saja.
Agama telah dirampingkan, sedemikian rupa sehingga, hanya mengurus masalah-masalah ritual belaka. Agama jangan dibawa-bawa ke dalam kancah politik, sosial dan ekonomi. Karena jika agama dibawa ke dalam arena politik dan sosial, maka akan terjadi perang antar agama dan penindasan atas agama tertentu oleh agama yang berkuasa. Demikian pula, jika agama diperan aktifkan dalam urusan ekonomi, maka akan membatasi kebebasan perilaku menimbun kekayaan, karena banyak lampu-lampu merah dan peringatan-peringatan yang sudah tentu akan menghambat kelancaran bisnis.

Apakah benar demikian ?
Tentu, bagi mereka yang masih memiliki keterikatan dengan agama akan mengatakan, bahwa pernyataan di atas relatif kebenarannya. Sebab, boleh jadi pernyataan di atas adalah suatu kesimpulan dari beberapa kasus sejarah yang parsial dan situasional, bahkan tidak bisa digeneralisasikan.
Namun bagi kaum muslimin, pernyataan di atas sama sekali tidak benar, karena secara teoritis agama Islam adalah pegangan hidup (way of life) yang lengkap dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, baik secara individu maupun kemasyarakatan. Islam agama yang sangat luas dan fleksibel.
Secara praktek hal ini telah dibuktikan, bahwa dalam sebuah pemerintahan yang menjalankan syariat Islam dengan baik, kehidupan masyarakatnya baik muslim atau non muslim aman, damai dan sejahtera, bahkan perkembangan ilmu pengetahuan di dalamnya maju pesat.
Yang menjadi acuan kita, adalah bagaimana seharusnya kita beragama, agar ajarannya benar-benar terasa dan mewarnai seluruh aspek kehidupan kita.
Sebagaimana telah kita bahas pada edisi sebelumnya, bahwa ajaran-ajaran Din terdiri atas tiga macam, yaitu aqidah (keyakinan), syariah (hukum atau fiqih) dan akhlaq. Semuanya harus kita perhatikan secara proporsional. Di sini kami akan menjelaskan, walaupun ringkas, ketiga jenis ajaran tersebut.

1.Aqidah
Aqidah adalah perkara-perkara yang mengikat akal, pikiran dan jiwa seseorang (Mabani-e Syenakht, Syeikh Muhammad Raysyahri). Misalnya, ketika seseorang meyakini adanya satu Dzat yang senantiasa mengawasi gerak-gerik kita, maka keyakinan tersebut mengikat kita sehingga kita tidak leluasa berbuat sesuatu yang akan menyebabkan-Nya murka.
Pada dasarnya, inti dari aqidah semua agama, adalah keyakinan akan eksistensi Dzat Pencipta alam raya ini dan ini merupakan fitrah manusia. Dengan demikian, dari sisi ini semua agama sama, khususnya agama samawi. Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah wahai ahli kitab, marilah kita menuju (membicarakan) kalimat (keyakinan) yang sama antara kami dan kalian.” (QS. Ali Imran : 64).
Namun perbedaan muncul ketika berbicara tentang siapa pencipta alam raya ini, bagaimana wujud-Nya, apakah tunggal atau berbilang, atau pertanyaan-pertanyaan lain yang berkaitan dengan ketuhanan.
Tentu, tidak mungkin semua agama itu benar dalam memahami Dzat Pencipta. Oleh karenanya, hanya ada satu agama yang benar dalam memahami siapa dan bagaimana Dzat Pencipta itu.

Lalu bagaimana cara menentukan mana agama yang benar ?
Dalam hal ini, masing-masing agama tidak bisa membicarakan hal itu menurut kaca matanya sendiri, baik melalui kitab sucinya atau pendapat para pakarnya. Umat Islam tidak bisa membuktikan bahwa Tuhan itu Allah dengan Al-Qur’an maupun Hadis, atau umat Kristiani dengan kitab Injilnya. Demikian pula umat lainnya.
Berbicara tentang siapa dan bagaimana Tuhan Pencipta, harus dengan sesuatu yang disepakati dan dimiliki oleh setiap agama, yaitu akal. Keunggulan dan keberhasilan suatu agama atau aliran, tergantung sejauh mana dapat dipertahankan kebenarannya oleh akal. Maka di sinilah perlunya kita mempelajari aqidah melalui pendekatan akal, atau yang sering disebut dengan ushuluddin, ilmu tauhid dan ilmu kalam (theologi).
Bagaimana kita beraqidah atau bagaimana cara kita mempelajari aqidah ?
Ayatullah Muhammad Ray Syahri dalam kitab Mabani-e Syenakht membagi manusia yang beraqidah kepada dua kelompok, yaitu sebagian orang beraqidah atas dasar taqlid dan lainnya beraqidah atas dasar tahqiq. Taqlid ialah menerima pendapat orang tanpa dalil dan argumentasi (burhan) aqli, sebaliknya tahqiq adalah menerima pendapat berdasarkan dalil dan argumentasi (burhan) aqli.
Beraqidah atas dasar taqlid, menurut akal tidak dapat dibenarkan. Karena masalah aqidah adalah masalah keyakinan dan kemantapan, sementara taqlid tidak memberikan keyakinan dan kemantapan. Oleh karenanya, alangkah banyak kalangan awam, dalam masalah keagamaan, karena satu dan lain hal, pindah agama atau keluar dari agamanya. Al-Qur’an sendiri, dalam beberapa ayatnya, mengkritik cara berpikir seperti ini, yang merupakan cara berpikir yang biasa dijadikan alasan oleh orang-orang musyrik untuk tidak mengikuti ajakan para Nabi. Misalnya, Al-Qur’an mengatakan, “Jika dikatakan kepada mereka, Ikutilah apa yang Allah turunkan. Mereka menjawab, Tidak. Akan tetapi kami mengikuti (melakukan) apa yang kami dapati dari pendahulu kami.” (QS. Luqman : 21).
Selain itu, Al-Qur’an juga melarang mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan, “Dan janganlah kalian mengikuti apa yang tidak kalian ketahui.” (QS. Al-Isra : 36). Bahkan Al-Qur’an menyebut orang yang tidak menggunakan akalnya sebagai binatang yang paling buruk, “Sesungguhnya binatang yang paling buruk di sisi Allah adalah orang yang bisu dan tuli, yaitu orang-orang yang tidak berpikir.” (QS. Al-Anfal : 22) dan ayat-ayat lainnya.
Disamping itu, terdapat sejumlah Hadis Rasulullah saaw yang menganjurkan umatnya agar beragama atas dasar pengetahuan. Antara lain Hadis yang berbunyi, “Jadilah kalian orang yang berilmu atau yang sedang menuntut ilmu, dan jangan menjadi orang yang ikut-ikutan.” (Kitab an-Nihayah Ibnu Atsir, jilid I hal. 67).
Ala kullihal, akal diciptakan sebagai sumber kekuatan manusia untuk mengetahui kebenaran dan kesalahan. Salah seorang Ma’shumin berkata, “Allah mempunyai dua hujjah (bukti kebenaran), hujjah lahiriah dan hujah batiniah. Hujah lahiriah adalah para Rasul dan hujjah batiniah adalah akal.” Sementara itu, para Mutakalimin dan filosof muslim telah bersusah payah membangun argumentasi-argumentasi rasional yang kuat dan kokoh tentang pembuktian keberadaan Allah Ta’ala.
Dengan demikian, kesimpulan yang dapat kita tarik dari keterangan di atas, adalah bahwa dalam masalah aqidah seseorang mesti bertahqiq dengan dalil-dalil akal, dan tidak boleh ber-taqlid.
2. Syariat

Syariat menurut arti bahasa adalah tempat mengalirnya air. Lalu syariat diartikan lebih luas, yaitu untuk segala jalan yang mengantarkan manusia kepada maksudnya (lihat Tafsir Namuneh dan Tafsir Mizan dalam menafsirkan surat Al-Jatsiyah ayat 18).

Dengan demikian, Syariat Islamiyah berarti jalan yang mengantarkan umat manusia kepada tujuan Islami.
Setelah seseorang meyakini keberadaan Allah sebagai Pencipta dan Pemberi kehidupan sesuai dengan dalil-dalil akal, maka konsekuensi logisnya (bil mulazamah aqliyyah) dia akan merasa berkewajiban untuk menaati dan menyembah-Nya. Namun sebelumnya, tentu dia harus mengetahui cara bertaat dan menyembah kepada-Nya, agar tidak seperti orang-orang Arab Jahiliyah yang menyembah Allah, namun melalui patung-patung (QS. Az-Zumar : 3).
Mereka, sesuai dengan fitrah illahiah, meyakini keberadaan Tuhan Sang Pencipta alam raya. Berkenaan dengan itu, Allah Ta’ala berfirman, “Jika kamu bertanya kepada mereka, Siapakah yang menciptakan bumi dan langit ? Niscaya mereka menjawab, Allah.” (QS. Lukman : 25).  Kemudian, mereka ingin mengadakan hubungan dan berkomunikasi dengan-Nya (menyembah-Nya), sebagaimana Allah lukiskan dalam firman-Nya, “Sebenarnya kami menyembah patung-patung sebagai upaya mendekatkan diri kami kepada Allah semata.” (QS. Az-Zumar : 3). Meskipun mereka meyakini keberadaan Allah Ta’ala, namun mereka salah dalam cara mengadakan hubungan dan berkomunikasi dengan-Nya.
Nah, agar tidak terjadi kesalahan dalam kontak dan komunikasi dengan Allah, maka kita mesti melakukannya menurut cara yang dihendaki-Nya dan tidak mengikuti cara yang kita inginkan. Allah dengan luthf-Nya (upaya mendekatkan hamba pada ketaatan dan menjauhkannya dari kemaksiatan) mengutus para Nabi dan menurunkan kitab untuk mengajarkan tata cara menyembah (beribadah). Oleh karena itu, kita mesti mengikuti bagaimana Rasulullah saaw beribadah, ‘’Shalatlah kalian, sebagaimana kalian melihat aku shalat.’’
Kaum muslimin yang menyaksikan Rasulullah beribadah secara langsung, tidak mengalami kesulitan untuk mengikuti beliau. Namun, bagi kita yang telah dipisahkan dari beliau dengan rentang waktu yang cukup panjang (lima belas abad), untuk mengetahui cara beliau beribadah hanyalah dapat dilakukan melalui perantaraan Al-Qur’an dan Hadis. Dan untuk memahami maksud Al-Qur’an dan Hadis tidaklah mudah.
Menyangkut Al-Qur’an, Imam Ali bin Abi Thalib as. berkata, “Kitab Tuhan kalian (berada) di tengah-tengah kalian. Ia menjelaskan tentang halal dan haram, kewajiban dan keutamaan, nasikh (ayat yang menghapus) dan mansukh (ayat yang dihapus), rukhshah dan azimah, khusus dan umum, ibrah dan perumpamaan, mursal (mutlaq) dan mahdud (muqayyad), muhkam (ayat yang jelas maksudnya)…” (Tashnif Nahjul Balaghah : 207). Sedangkan mengenai Hadis yang sampai kepada kita, ribuan jumlahnya dari berbagai kitab Hadis dan tidak sedikit darinya terdapat pertentangan satu dengan lainnya.
Dengan demikian, untuk dapat memahami maksud Al-Qur’an dan Hadis, harus terlebih dahulu menguasai sejumlah disiplin ilmu dengan baik, antara lain Bahasa Arab, Tafsir, Ulumul Qur’an, Ushul Fiqih, Mantiq, Ilmu Rijal, Ulumul Hadis dan sebagainya.
Orang yang telah menguasai semua disiplin ilmu tersebut dengan baik, dia dapat ber-istinbath (meng-interpretasi-kan hukum) secara langsung dari Al-Qur’an dan Hadis (pelakunya disebut mujtahid). Tetapi orang yang tidak menguasai semua ilmu di atas dengan baik, maka cukup baginya mengikuti (bertaqlid) kepada hasil istinbath seorang mujtahid. Dalam masalah aqidah taqlid tidak diperkenankan, sementara dalam masalah syariat taqlid diperbolehkan.

3. Akhlak
Para ulama dalam mengartikan akhlak umumnya mengatakan, “Akhlak adalah ilmu yang menjelaskan tentang mana yang baik dan yang buruk, serta apa yang harus diamalkan.” Mereka membagi ilmu akhlak kepada dua bagian, yaitu akhlak teoritis dan akhlak praktis. Mempelajari dan mengamalkan akhlak sangat diperlukan, sebagai proses mencapai tujuan hidup, yaitu kesempurnaan.
Kalimat penutup, sebagai jawaban atas pertanyaan bagaimana seharusnya kita beragama, adalah beraqidah atas dasar tahqiq dan menjalankan syariat dengan baik atas dasar ijtihad atau taqlid dan berakhlak.





Pendidikan Yang Menghargai Kemajemukan

Pendidikan Yang Menghargai Kemajemukan 
oleh: A. Waidl


"Hai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah di antara kalian adalah orang yang paling bertaqwa" (Al-hujurat: 13).

Dalam ayat di atas Allah telah menandaskan bahwa manusia diciptakan dalam wujud laki-laki dan perempuan, berbangsa-bangsa, dan bersuku-suku. Dengan tegas ayat ini menandakan pluralitas manusia. Kebhinekaan bukan untuk saling menghilangkan, sebaliknya agar saling mengenal (lita'rafu). Mengenal artinya saling mengerti dan memahami, di sini diandaikan saling belajar sehingga kehidupan menjadi dinamis.
Al-Quran juga sangat menyadari bahwa agama manusia berbeda-beda. Namun, perbedaan ini bukan dijadikan sebagai potensi untuk saling membunuh, sebaliknya dengan santun dan arif al-Quran menawarkan alternatif pencarian titik temu (kalimatun sawa') masing-masing (Q.S. Ali Imran: 64). Terhadap perbedaan, al-Quran melawan keras tindakan diskriminasi. Al-Quran lebih menekankan keadilan sebagai sikap yang ideal bagi perbedaan tersebut (Q.S. al-Maidah: 8).

Atau kalau kita baca ayat demi ayat dalam al-Quran, maka yang ditampilkan adalah kepedulian terhadap wacana kemanusiaan. Karena itu ironis jika masih ada pemeluk agama yang mensikapi perbedaan dan kemajemukan sebagai ancaman (bukan rahmat). Ini menunjukkan cara berpikir dan proses pemahaman yang sempit.

Jika demikian, pendidikan memiliki peran strategis untuk mengembalikan cara berpikir dan sikap peserta didik ke dalam tataran yang mengerti (dan memahami) pluralitas bermasyarakat. Pendidikan yang diselenggarakan haruslah pendidikan yang paham betul terhadap problem akut kemanusiaan seperti penindasan, kemiskinan, pembantaian dan sebagainya. Pendidikan yang dilaksanakan bukan merupakan penanaman wacana dalam fungsi organisatorisnya yang lebih mengedepankan terma perebutan wilayah dan pengikut. Karena pendidikan seperti ini hanya akan menampakkan ekspresi kecurigaan terus menerus dalam prosesnya dan antar sivitas pendidikan. Pendidikan seperti ini juga merupakan upaya pendangkalan wacana keagamaan.

Pendidikan bukan hanya masuk pada penjabaran ajaran yang sangat formal dalam tataran ritual dan tradisi, karena dengan begitu pendidikan hanya merupakan upaya ideologisasi. Sebaliknya, pendidikan hendaknya dipahami dalam sistem transendensi seluruh aspek kehidupan. Transendensi ini bukan dimaksudkan merebut ridla-Nya dengan menyingkirkan keinginan manusia lain (dengan agama/keyakinan lain) yang sama. Sebaliknya, justeru menghargainya dan bersama merumuskan kebutuhan kemanusiaan sebagai refleksi teologis masing-masing.

Pendidikan seperti ini akan menciptakan kreativitas untuk selalu memperluas cakupan makna dari praktek keagamaan formal. Sehingga zakat diperuntukkan bagia siapa saja yang masuk dalam kategori miskin dan faqir, tanpa tergantung pada latar agamanya. Puasa bukan semata penghadiran Tuhan secara individualistis dan dingin, akan tetapi lebih lebar dalam keprihatinan masalah kemanusiaan.

Pendidikan agama semestinya diarahkan untuk mengajak orang menerima dan terbuka terhadap pluralisme. Dengan begitu peserta pendidikan diberikan kesempatan untuk mencerna "rasa keberagamaannya" dengan bahasanya sendiri dan menumbuhkan kesadaran keberagamaan itu di tengah-tengah komunitas lain di luarnya. Di sini peserta pendidikan tidak dipaksa memahami pemahaman dan pengalaman lain dalam bahasa sang guru. Peserta pendidikan dilatih untuk menggunakan kepekaan atas pluralitas dan memahaminya dengan bahasa batinnya sendiri.

Untuk maksud tersebut peserta pendidikan sejak awal sudah dipersaksikan terhadap perbedaan-perbedaan melalui lapangan konkrit, seperti adanya masjid, gereja, pura, wihara, dan beberapa tempat suci bagi agama atau kepercayaan tertentu. Pendidikan seperti ini diharapkan akan meminimalisir atau bahkan mengatasi kecenderungan perseteruan manusia atas nama agama atau keyakinan.

Dalam masyarakat yang relatif majemuk seperti di Indonesia pendidikan agama harus memberikan gambaran dan idealitas moral agamanya secara kontekstual. Di sini dipersyaratkan peninjauan ulang atas doktrin-doktrin agama yang kaku. Seperti halnya jihad bukan dipahami sebagai persetujuan Islam untuk menggunakan kekerasan dalam menyebarkan agama. Melainkan, berarti mengubah sistem yang didasarkan pada istikbar (keangkuhan kekuasaan dan eksploitasi) dan istidh'af (penekanan dan penindasan) serta penolakan terhadap yang munkar (ketidakadilan) (Asghar Ali Engineer; 1993 hal 11). Sisi radikalisasi seperti ini praktis mengandaikan sebuah kerjasama dengan pihak lain. Dalam proses kerjasama tersebut pendidikan agama harus mengambil perannya secara proaktif.

Pluralitas agama dan keyakinan bukan dijadikan sebagai potensi kerusuhan, melainkan merupakan potensi untuk diajak bersama melaksanakan ajaran demi kepentingan kemanusiaan. Karena seluruh agama selalu mengklaim demi keselamatan manusia. Di sini pendidikan agama memiliki peran penting untuk menumbuhkan sikap awal agar bisa bekerja sama dengan agama atau keyakinan yang lain. Pendidikan agama harus memungkinkan tumbuhnya persaudaraan dalam kebersamaan menemukan tradisi ilahi yang sama pada setiap agama, sehingga bisa bersama membangun dunia baru yang lebih bermakna bagi seluruh umat manusia.

Pengembangan sikap toleransi plus barang kali merupakan upaya strategis yang bisa dilakukan, yakni dengan menghormati orang atau golongan lain tanpa kehilangan identitas diri. Untuk ini dialog antar umat beragama menjadi penting sebagai manifestasi membuka diri pengalaman keagamaan. Caranya anak diajak melihat kebaikan kelompok lain, tidak bersikap apriori, SARA dan berperilaku negatif terhadap orang atau kelompok lain. Atau dengan cara sharing penghayatan agama sesuai pengalaman spiritual yang dijalai secara terbuka. Dengan begitu akan terhindar dari informasi yang salah mengenai agama lain.

Dalam cakupan pergaulan dengan bermacam-macam ideologi dan pandangan dunia, pendidikan agama menjadi agen yang akan mempersiapkan peserta didik untuk memasuki dialog tentang prinsip-prinsip kehidupannya sendiri secara terbuka. Karena dari dialog itu cita-cita masyarakat masa depan yang setia terhadap keyakinannya sendiri dan menghormati keterikatan manusia lain pada keyakinannya semakin terbuka. Penghargaan atas manusia lain dalam budaya, keyakinan serta pandangan dunianya menjadikan orang tidak bersikap radikal dan ideologis. Karena itu, kurikulum pendidikan agama juga harus bisa memberikan jaminan bagi terselenggaranya dialog, dengan menyajikan berbagai kearifan masing-masing ajaran dan pengalaman relijius masing-masing individu.


Diambil dari Bulletin Jum'at Al-Ikhtilaf, No. 07/9 Juni 2000, diterbitkan oleh LKiS Yogyakarta.

Minggu, 02 Maret 2014

SA’ID BIN ‘AMIR AL JUMAHY

SA’ID BIN ‘AMIR AL JUMAHY

“Dia telah membeli akhirat dengan dunia, dan mengutamakan keridhaan Allah dan
Rasul atas segala-galanya.” (Mu’arrikhin).

SA’ID BIN ‘AMIR AL JUMAHY, termasuk seorang pemuda di antara ribuan orang yang pergi ke Tan’im, di luar kota Makkah. Mereka berbondong-bondong ke sana, dikerahkan para pemimpin Quraisy untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman mati terhadap Khubaib bin ‘Ady, iaitu seorang sahabat Nabi yang mereka jatuhi hukuman tanpa alasan.

Dengan semangat muda yang menyala-nyala, Sa’id maju menerobos orang banyak yang berdesak-desakan. Akhirnya dia sampai ke depan, sejajar dengan tempat duduk orang-orang penting, seperti Abu Sufyan bin Harb, Shafwan bin Umayyah dan lain-lain.

Kaum kafir Quraisy sengaja mempertontonkan tawanan mereka dibelenggu. Sementara para wanita, anak anak dan pemuda, menggiring Khubaib ke lapangan maut. Mereka ingin membalas dendam terhadap Nabi Muhammad saw, serta melampiaskan sakit hati atas ke kalahan mereka dalam perang Badar. Ketika tawanan yang mereka giring sampai ke tiang salib yang telah disediakan, ‘Sa’id mendongakkan kepala melihat kepada Khubaib bin ‘Ady. ‘Said mendengar suara Khubaib berkata dengan mantap, “Jika kalian bolehkan, saya ingin shalat dua raka’at sebelum saya kalian bunuh..........”

Kemudian Sa’id melihat Khubaib menghadap ke kiblat (Ka’bah). Dia shalat dua raka’at. Alangkah bagus dan sempurna shalatnya itu. Sesudah shalat, Khubaib menghadap kepada para pemimpin Quraisy seraya berkata, “Demi Allah! Seandainya kalian tidak akan menuduhku melama-lamakan shalat untuk melambat-lambatkan waktu kerana takut mati, nescaya saya akan shalat lebih banyak lagi.” Mendengar ucapan Khubaib tersebut, Sa’id melihat para pemimpin Quraisy naik darah, bagaikan hendak mencencang-cencang tubuh Khubaib hidup hidup. Kata mereka, “Sukakah engkau si Muhammad menggantikan engkau, kemudian engkau kami bebaskan?”
“Saya tidak ingin bersenang-senang dengan isteri dan anak-anak saya, sementara
Muhammad tertusuk duri....,” jawab Khubaib mantap.
“Bunuh dia...! Bunuh dia...!” teriak orang banyak.
Sa’id melihat Khubaib telah dipakukan ke tiang salib. 
Dia mengarahkan pandangannya ke langit sambil mendo’a, “Ya, Allah! Hitunglah jumlah mereka! Hancurkanlah mereka semua. Jangan disisakan seorang jua pun!”

Tidak lama kemudian Khubaib menghembuskan nafasnya yang terakhir di tiang salib. Sekujur tubuhnya penuh dengan luka-luka kerana tebasan pedang dan tikaman tombak yang tak terbilang jumlahnya.
Kaum kafir Quraisy kembali ke Makkah biasa-biasa saja. Seolah-olah mereka telah melupakan peristiwa maut yang merenggut nyawa Khubaib dengan sadis. Tetapi Sa’id bin ‘Amir Al-Jumahy yang baru meningkat usia remaja tidak dapat melupakan Khubaib walau agak sedetikpun. Sehingga dia bermimpi melihat Khubaib menjelma di hadapannya. Dia seakan-akan melihat Khubaib shalat dua raka’at dengan khusyu’ dan tenang di bawah tiang salib. Seperti terdengar olehnya rintihan suara Khubaib mendo‘akan kaum kafir Quraisy. Kerana itu Sa’id. ketakutan kalau-kalau Allah swt. segera mengabulkan do’a Khubaib, sehingga petir dan
halilintar menyambar kaum Quraisy.

Keberanian dan ketabahan Khubaib menghadapi maut mengajarkan pada Sa’id beberapa
hal yang belum pernah diketahuinya selama ini. Pertama, hidup yang sesungguhnya ialah hidup berakidah (beriman); kemudian berjuang mempertahankan ‘akidah itu sampai mati. Kedua, iman yang telah terhunjam dalam di hati seorang dapat menimbulkan hal-hal yang ajaib dan luar biasa. Ketiga, orang yang paling dicintai Khubaib ialah sahabatnya, iaitu seorang Nabi yang dikukuhkan dari langit. Sejak itu Allah swt. membukakan hati Sa’id bin ‘Amir untuk menganut agama Islam. Kemudian dia berpidato di hadapan khalayak ramai, menyatakan: alangkah bodohnya orang Quraisy menyembah berhala. Kerana itu dia tidak mahu terlibat dalam kebodohan itu. Lalu dibuangnya berhala-hala yang dipujanya selamaini. Kemudian diumumkannya bahwa mulai sa‘at itu dia masuk Islam.

Tidak lama sesudah itu, Sa id menyusul kaum muslimin hijrah ke Madinah. Di sana dia senantisasa mendampingi Nabi s.a.w. Dia ikut berperang bersama beliau, mula mula dalam peperangan Khaibar. Kemudian dia selalu turut berperang dalam setiap peperangan berikutnya. Setelah Nabi saw. berpulang ke rahmatullah, Sa’id tetap menjadi pembela setia Khalifah Abu Bakar dan ‘Umar. Dia menjadi teladan satu-satuya bagi orang orang mu’min yang membeli kehidupan akhirat dengan kehidupan dunia. Dia lebih mengutamakan keridhaan Allah dan pahala daripada-Nya di atas segala keinginan hawa nafsu dan kehendak jasad. Kedua Khalifah Rasulullah, Abu Bakar dan ‘Umar bin Khaththab, mengerti bahwa ucapan-ucapan Sa’id sangat berbobot, dan taqwanya sangat tinggi. Kerana itu keduanya tidak keberatan mendengar dan melaksanakan nasihat-nasihat Sa ‘id.

Pada sutu hari di awal pemerintahan Khalifah ‘Umar bin Khaththab, Sa’id datang kepadanya memberi nasihat. Kata Sa’id, “Ya ‘Umar! Takutlah kepada Allah dalam memerintah manusia. Jangan takut kepada manusia dalam menjalankan agama Allah! Jangan berkata berbeda dengan perbuatan. Kerana sebaik-baik perkataan ialah yang dibuktikan dengan perbuatan. Hai Umar! Tujukanlah seluruh perhatian Anda kepada urusan kaum muslimin baik yang jauh mahupun yang dekat. Berikan kepada mereka apa yang Anda dan keluarga sukai. Jauhkan dari mereka apa-apa yang Anda dan ke luarga Anda tidak sukai. Arahkan semua karunia Allah kepada yang baik. Jangan hiraukan cacian orang-orang yang suka mencaci.”
“Siapakah yang sanggup melaksanakan semua itu, hai Sa’id?” tanya Khalifah ‘Umar.
“Tentu orang seperti Anda! Bukankah Anda telah dipercayai Allah memerintah ummat
Muhammad ini? Bukankah antara Anda dengan Allah tidak ada lagi suatu penghalang?” jawab
Sa’id meyakinkan.

Pada suatu ketika Khalifah ‘Umar memanggil Sa’id untuk diserahi suatu jabatan dalam pemerintahan. “Hai Sa’id! Engkau kami angkat menjadi Gubernur di Himsh!” kata Khalifah Umar. “Wahai ‘Umar! Saya memohon kepada Allah semoga Anda tidak mendorong saya condong kepada dunia,” kata Sa’id. “Celaka Engkau!” balas ‘Umar marah. “Engkau pikulkan beban pemerintahn ini di pundakku, tetapi kemudian Engkau menghindar dan membiarkanku repot sendiri”. “Demi Allah! Saya tidak akan membiarkan Anda,” jawab Sa’id. Kemudjan Khalifah ‘Umar melantik Sa ‘Id menjadi Gubernur di Himsh. Sesudah pelantikan, Khalifah ‘Umar bertanya kepada Sa’id, “Berapa gaji yang Engkau inginkan? ”, “Apa yang harus saya perbuat dengan gaji itu, ya Amirul Mu’minin?” jawab Sa’id balik bertanya. “Bukankah penghasilan saya dan Baitul Mal sudah cukup?”

Tidak berapa lama setelah Sa ‘id memerintah di Himsh, sebuah delegasi datang menghadap Khalifah ‘Umar di Madinah. Delegasi itu terdiri dari penduduk Hims yang di tugasi Khalifah mengamat-amati jalannya pemerintahan di Himsh. Dalam pertemuan dengan delegasi tersebut, Khalifah ‘Umar meminta daftar fakir miskin Himsh untuk diberikan santunan. Delegasi mengajukan daftar yang diminta Khalifah. Di dalam daftar tersebut terdapat nama-nama si Fulan, dan nama Sa’id bin ‘Amir Al-Jumahy. Ketika Khalifah meneliti daftar tersebut, beliau menemukan nama Sa’id bin ‘Amir Al-Jumahy. Lalu beliau bertanya “Siapa Sa ‘id bin ‘Amir yang kalian cantumkan ini?” “Gubernur kami! “jawab mereka. “Betulkah Gubernur kalian miskin?” tanya khalifah heran. “Sungguh, ya Amiral Mu’minin! Demi Allah! Sering kali di rumahnya tidak kelihatan
tanda-tanda api menyala (tidak memasak),”jawab mereka meyakinkan. Mendengar perkataan itu, Khalifah ‘Umar menangis, sehingga air mata beliau meleleh membasahi jenggotnya. Kemudian beliau mengambil sebuah pundi-pundi berisi uang seribu dinar. “Kembalilah kalian ke Himsh. Sampaikan salamku kepada Gubernur Sa’id bin ‘Amir. Dan uang ini saya kirim kan untuk beliau, guna meringankan kesulitan-kesulitan rumah tangganya” ucap ‘Umar sedih. Setibanya di Himsh, delegasi itu segera menghadap Gubernur Sa’id, menyampaikan salam dan uang kiriman Khalifah untuk beliau Setelah Gubernur Sa ‘id melihat pundi-pundi berisi uang dinar, pundi-pundi itu dijauhkannya dari sisinya seraya berucap, ‘inna lilahi wa inna ilaihi raji’un. (Kita milik Allah, pasti kembali kepada Allah)”. Mendengar ucapannya itu, seolah-olah suatu mara bahaya sedang menimpanya. Kerana itu isterinya segera menghampiri seraya bertanya, “Apa yang terjadi, hai ‘Sa ‘Id? Meninggalkah Amirul Mu ‘minin?” “Bahkan lebih besar dan itu!” jawab Sa’id sedih. “Apakah tentara muslimin kalah berperang?” tanya Isterinya pula. “Jauh lebih besar dri itu!” jawab Sa’id tetap sedih. ‘Apa pulakah gerangan yang Iebih dari itu?” tanya isterinya tak sabar."Dunia telah datang untuk merusak akhiratku. Bencana telah menyusup ke rumah tangga kita,’ jawab Sa’id mantap. “Bebaskan dirimu daripadanya! “ kata isteri Sa’id memberi semangat, tanpa mengetahui perihal adanya pundi pundi uang yang dikirimkan Khalifah ‘Umar untuk pri badi suaminya. “Mahukah Engkau menolongku berbuat demikian?” tanya Sa ‘id. ‘Tentu...;! “jawab isterinya bersemangat. Maka Sa’id mengambil pundi-pundi uang itu, lalu disuruhnya isterinya membagi-bagi kepada fakir miskin.

Tidak berapa lama kemudian, Khalifah ‘Umar berkunjung ke Syria, mengininspeksi pemerintahan di sana. Dalam kunjungannya itu beliau menyempatkan diri singgah di Kota Himsh yang pada masa itu dinamai orang pula “Kuwaifah (Kufah kedil)”, kerana rakyatnya sering melapor kepada pemerintah pusat dengan ke1emahan-kelemahan Gubernur mereka, persis seperti kelakuan masyarakat Kufah. Tatkala Khalifah singgah di sana, rakyat mengelu - elukan beliau, mengucapkan Selamat Datang. Khalifah bertanya kepada rakyat, “Bagaimana penilaian Saudara-Saudara terhadap kebijakan Gubernur. “Ada empat macam kelemahan yang hendak kami laporkan kepada Khalifah,” jawab rakyat. “Saya akan pertemukan kalian dengan Gubernur kalian,” jawab Khalifah ‘Umar sambil mendo’a: “Semoga sangka baik saya selama ini kepada Sa’id bin ‘Amir tidak salah”.

Maka tatkala semua pihak—iaitu Gubernur dan masyarakat—telah lengkap berada di hadapan Khalifah, beliau bertanya kepada rakyat, “Bagaimana laporan sau dara-saudara tentang kebijakan Gubernur Saudara-sau dara?” Pertanyaan Khalifah dijawab oleh seorang Juru Bicara. Pertama: Gubernur selalu tiba di tempat tugas setelah matahari tinggi. “Bagaimana tanggapan Anda mengenai lapor’an rakyat Anda itu, hai Sa ‘id?” tanya Khalifah. Gubernur Sa’id bin ‘Amir Al-Jumahy diam sejenak. Kemudian dia berkata: “Sesungguhnya saya keberatan menanggapinya. Tetapi apa boleh buat.. Keluarga saya tidak mempunyai pembantu. Kerana itu tiap pagi saya terpaksa turun tangan membuat adonan roti lebih dahulu untuk mereka. Sesudah adonan itu asam (siap untuk dimasak), barulah saya buat roti. Kemudian saya berwudhu’. Sesudah itu barulah saya berangkat ke tempat tugas untuk melayani masyarakat”. “Apa lagi laporan Saudara-saudara?” tanya Khalifah kepada hadirin. Kedua, Gubernur tidak bersedia melayani kami pada malam hari". “Bagaimana pula tanggapan Anda mengenai itu, hai Sa’id?” tanya khalifah. “ Ini sesungguhnya lebih berat bagi saya menanggapinya, terutama di hadapan umum seperti ini,” kata Sa ‘id. “Saya telah membagi waktu saya, siang hari untuk melayani masyarakat, malam hari untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah,” lanjut Sa ‘id “Apa lagi,” tanya Khalifah kepada hadirin. Ketiga: Gubernur tidak masuk kantor sehari penuh dalam sebulan.“Bagaimana pula tanggapan Anda, hai Sa’id?” tanya Khalifah ‘Umar.
“Sebagaimana telah saya terangkan tadi, saya tidak mempunyai pembantu rumah
tangga. Di samping itu saya hanya memiliki sepasang pakaian yang melekat di badan ku ini.
Saya mencucinya sekali sebulan. Bila saya mencucinya, saya terpaksa menunggu kering lebih
dahulu. Sesudah itu barulah saya dapat keluar melayani masyarakat,” ucap Said.
‘Nah, apa lagi laporan selanjutnya?” tanya Khalifah.
Keempai: Sewaktu-waktu Gubernur menutup diri untuk bicara. Pada saat-saat seperti itu,
biasanya beliau pergi meninggalkan majlis.”
“Silakan menanggapi, hai Gubernur Said!” kata Khali fah ‘Umar.
“Ketika saya masih musyrik dulu, saya pernah menyaksikan almarhum Khubaib bin
‘Ady dihukum mati oleh kaum Quraisy kafir. Saya menyaksikan mereka menyayat-nyayat tubuh
Khubaib berkeping-keping. Pada waktu itu mereka bertanya mengejek Khubaib, “Sukakah
engkau si Muhammad menggantikan engkau, kemudian engkau kami bebaskan?”
Ejekan mereka itu dijawab oleh Khubaib, “Saya tidak ingin bersenang-senang dengan
isteri dan anak-anak saya, sementara Nabi Muhammad tertusuk duri ...“
‘Demi Allah...!” kata Sa’id. “Jika saya teringat akan peristiwa , di waktu mana saya
membiarkan Khubaib tanpa membelanya sedikit jua pun, maka saya merasa, bahwa dosaku
tidak akan diampuni Allah swt.”
Segala puji bagi Allah yang tidak mengecewakanku,” kata Khalifah ‘U mar mengkahiri
dialog itu.
Sekembalinya ke Madinah, Khalifah ‘Umar mengirimi Gubernur Sa’id seribu dinar
untuk memenuhi kebutuhannya.
Melihat jumlah uang sebanyak itu, isterinya berkata kepada Sa’jd, “Segala puji bagi Allah
yang mencukupi kita berkat pengabdianmu. Saya ingin uang ini kita per gunakan untuk
membeli bahan pangan dan kelengkapan kelengkapan lain-lain. Dan saya ingin pula menggaji
seorang pembantu rumah tangga untuk kita.”
“Adakah usul yang lebih baik dan itu?” tanya Sa’id kepada isterinya.
“Apa pulakah yang lebih baik dari itu? “ jawab isterinya balik bertanya.
“Kita bagi-bagikan saja uang ini kepada rakyat yang membutuhkannya. Itulah yang
lebih baik bagj kita,” jawab Sa’id.
“Mengapa....?” tanya isterinya.
‘Dengan begitu berarti kita mendepositokan uang ini kepada Allah. Itulah cara yang
lebih baik,” kata Said.
“Baiklah kalau begitu,” kata isterinya. “Semoga kita dibalasi Allah dengan balasan yang
paling baik.”
Sebelum mereka meninggalkan majlis, uang itu dimasukkan Sa ‘Id ke dalam beberapa